2:13 AM | Posted in

Namaku Karina, usiaku 17 tahun dan aku adalah anak kedua dari pasangan Menado-Sunda. Kulitku putih, tinggi sekitar 168 cm dan berat 50 kg. Rambutku panjang sebahu dan ukuran dada 36B. Dalam keluargaku, semua wanitanya rata-rata berbadan seperti aku, sehingga tidak seperti gadis-gadis lain yang mendambakan tubuh yang indah sampai rela berdiet ketat. Di keluarga kami justru makan apapun tetap segini-segini saja.

Suatu sore dalam perjalanan pulang sehabis latihan cheers di sekolah, aku disuruh ayah mengantarkan surat-surat penting ke rumah temannya yang biasa dipanggil Om Robert. Kebetulan rumahnya memang melewati rumah kami karena letaknya di kompleks yang sama di perumahan elit selatan Jakarta.

Om Robert ini walau usianya sudah di akhir kepala 4, namun wajah dan gayanya masih seperti anak muda. Dari dulu diam-diam aku sedikit naksir padanya. Habis selain ganteng dan rambutnya sedikit beruban, badannya juga tinggi tegap dan hobinya berenang serta tenis. Ayah kenal dengannya sejak semasa kuliah dulu, oleh sebab itu kami lumayan dekat dengan keluarganya.

Kedua anaknya sedang kuliah di Amerika, sedang istrinya aktif di kegiatan sosial dan sering pergi ke pesta-pesta. Ibu sering diajak oleh si Tante Mela, istri Om Robert ini, namun ibu selalu menolak karena dia lebih senang di rumah.

Dengan diantar supir, aku sampai juga di rumahnya Om Robert yang dari luar terlihat sederhana namun di dalam ada kolam renang dan kebun yang luas. Sejak kecil aku sudah sering ke sini, namun baru kali ini aku datang sendiri tanpa ayah atau ibuku. Masih dengan seragam cheers-ku yang terdiri dari rok lipit warna biru yang panjangnya belasan centi diatas paha, dan kaos ketat tanpa lengan warna putih, aku memencet bel pintu rumahnya sambil membawa amplop besar titipan ayahku.

Ayah memang sedang ada bisnis dengan Om Robert yang pengusaha kayu, maka akhir-akhir ini mereka giat saling mengontak satu sama lain. Karena ayah ada rapat yang tidak dapat ditunda, maka suratnya tidak dapat dia berikan sendiri.

Seorang pembantu wanita yang sudah lumayan tua keluar dari dalam dan membukakan pintu untukku. Sementara itu kusuruh supirku menungguku di luar.
Ketika memasuki ruang tamu, si pembantu berkata, “Tuan sedang berenang, Non. Tunggu saja di sini biar saya beritahu Tuan kalau Non sudah datang.”
“Makasih, Bi.” jawabku sambil duduk di sofa yang empuk.

Sudah 10 menit lebih menunggu, si bibi tidak muncul-muncul juga, begitu pula dengan Om Robert. Karena bosan, aku jalan-jalan dan sampai di pintu yang ternyata menghubungkan rumah itu dengan halaman belakang dan kolam renangnya yang lumayan besar. Kubuka pintunya dan di tepi kolam kulihat Om Robert yang sedang berdiri dan mengeringkan tubuh dengan handuk.

“Ooh..” pekikku dalam hati demi melihat tubuh atletisnya terutama bulu-bulu dadanya yang lebat, dan tonjolan di antara kedua pahanya.
Wajahku agak memerah karena mendadak aku jadi horny, dan payudaraku terasa gatal. Om Robert menoleh dan melihatku berdiri terpaku dengan tatapan tolol, dia pun tertawa dan memanggilku untuk menghampirinya.

“Halo Karin, apa kabar kamu..?” sapa Om Robert hangat sambil memberikan sun di pipiku.
Aku pun balas sun dia walau kagok, “Oh, baik Om. Om sendiri apa kabar..?”
“Om baik-baik aja. Kamu baru pulang dari sekolah yah..?” tanya Om Robert sambil memandangku dari atas sampai ke bawah.
Tatapannya berhenti sebentar di dadaku yang membusung terbungkus kaos ketat, sedangkan aku sendiri hanya dapat tersenyum melihat tonjolan di celana renang Om Robert yang ketat itu mengeras.

“Iya Om, baru latihan cheers. Tante Mella mana Om..?” ujarku basa-basi.
“Tante Mella lagi ke Bali sama teman-temannya. Om ditinggal sendirian nih.” balas Om Robert sambil memasang kimono di tubuhnya.
“Ooh..” jawabku dengan nada sedikit kecewa karena tidak dapat melihat tubuh atletis Om Robert dengan leluasa lagi.
“Ke dapur yuk..!”

“Kamu mau minum apa Rin..?” tanya Om Robert ketika kami sampai di dapur.
“Air putih aja Om, biar awet muda.” jawabku asal.
Sambil menunggu Om Robert menuangkan air dingin ke gelas, aku pindah duduk ke atas meja di tengah-tengah dapurnya yang luas karena tidak ada bangku di dapurnya.
“Duduk di sini boleh yah Om..?” tanyaku sambil menyilangkan kaki kananku dan membiarkan paha putihku makin tinggi terlihat.
“Boleh kok Rin.” kata Om Robert sambil mendekatiku dengan membawa gelas berisi air dingin.

Namun entah karena pandangannya terpaku pada cara dudukku yang menggoda itu atau memang beneran tidak sengaja, kakinya tersandung ujung keset yang berada di lantai dan Om Robert pun limbung ke depan hingga menumpahkan isi gelas tadi ke baju dan rokku.
“Aaah..!” pekikku kaget, sedang kedua tangan Om Robert langsung menggapai pahaku untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
“Aduh.., begimana sih..? Om nggak sengaja Rin. Maaf yah, baju kamu jadi basah semua tuh. Dingin nggak airnya tadi..?” tanya Om Robert sambil buru-buru mengambil lap dan menyeka rok dan kaosku.

Aku yang masih terkejut hanya diam mengamati tangan Om Robert yang berada di atas dadaku dan matanya yang nampak berkonsentrasi menyeka kaosku. Putingku tercetak semakin jelas di balik kaosku yang basah dan hembusan napasku yang memburu menerpa wajah Om Robert.
“Om.. udah Om..!” kataku lirih.
Dia pun menoleh ke atas memandang wajahku dan bukannya menjauh malah meletakkan kain lap tadi di sampingku dan mendekatkan kembali wajahnya ke wajahku dan tersenyum sambil mengelus rambutku.

“Kamu cantik, Karin..” ujarnya lembut.
Aku jadi tertunduk malu tapi tangannya mengangkat daguku dan malahan menciumku tepat di bibir. Aku refleks memejamkan mata dan Om Robert kembali menciumku tapi sekarang lidahnya mencoba mendesak masuk ke dalam mulutku. Aku ingin menolak rasanya, tapi dorongan dari dalam tidak dapat berbohong. Aku balas melumat bibirnya dan tanganku meraih pundak Om Robert, sedang tangannya sendiri meraba-raba pahaku dari dalam rokku yang makin terangkat hingga terlihat jelas celana dalam dan selangkanganku.

Ciumannya makin buas, dan kini Om Robert turun ke leher dan menciumku di sana. Sambil berciuman, tanganku meraih pengikat kimono Om Robert dan membukanya. Tanganku menelusuri dadanya yang bidang dan bulu-bulunya yang lebat, kemudian mengecupnya lembut. Sementara itu tangan Om Robert juga tidak mau kalah bergerak mengelus celana dalamku dari luar, kemudian ke atas lagi dan meremas payudaraku yang sudah gatal sedari tadi.

Aku melenguh agak keras dan Om Robert pun makin giat meremas-remas dadaku yang montok itu. Perlahan dia melepaskan ciumannya dan aku membiarkan dia melepas kaosku dari atas. Kini aku duduk hanya mengenakan bra hitam dan rok cheersku itu. Om Robert memandangku tidak berkedip. Kemudian dia bergerak cepat melumat kembali bibirku dan sambil french kissing, tangannya melepas kaitan bra-ku dari belakang dengan tangannya yang cekatan.

Kini dadaku benar-benar telanjang bulat. Aku masih merasa aneh karena baru kali ini aku telanjang dada di depan pria yang bukan pacarku. Om Robert mulai meremas kedua payudaraku bergantian dan aku memilih untuk memejamkan mata dan menikmati saja. Tiba-tiba aku merasa putingku yang sudah tegang akibat nafsu itu menjadi basah, dan ternyata Om Robert sedang asyik menjilatnya dengan lidahnya yang panjang dan tebal. Uh.., jago sekali dia melumat, mencium, menarik-narik dan menghisap-hisap puting kiri dan kananku.

Tanpa kusadari, aku pun mengeluarkan erangan yang lumayan keras, dan itu malah semakin membuat Om Robert bernafsu.
“Oom.. aah.. aah..!”
“Rin, kamu kok seksi banget sih..? Om suka banget sama badan kamu, bagus banget. Apalagi ini..” godanya sambil memelintir putingku yang makin mencuat dan tegang.
“Ahh.., Om.. gelii..!” balasku manja.

“Sshh.. jangan panggil ‘Om’, sekarang panggil ‘Robert’ aja ya, Rin. Kamu kan udah gede..” ujarnya.
“Iya deh, Om.” jawabku nakal dan Om Robert pun sengaja memelintir kedua putingku lebih keras lagi.
“Eeeh..! Om.. eh Robert.. geli aah..!” kataku sambil sedikit cemberut namun dia tidak menjawab malahan mencium bibirku mesra.

Entah kapan tepatnya, Om Robert berhasil meloloskan rok dan celana dalam hitamku, yang pasti tahu-tahu aku sudah telanjang bulat di atas meja dapur itu dan Om Robert sendiri sudah melepas celana renangnya, hanya tinggal memakai kimononya saja. Kini Om Robert membungkuk dan jilatannya pindah ke selangkanganku yang sengaja kubuka selebar-lebarnya agar dia dapat melihat isi vaginaku yang merekah dan berwarna merah muda.

Kemudian lidah yang hangat dan basah itu pun pindah ke atas dan mulai mengerjai klitorisku dari atas ke bawah dan begitu terus berulang-ulang hingga aku mengerang tidak tertahan.
“Aeeh.. uuh.. Rob.. aawh.. ehh..!”
Aku hanya dapat mengelus dan menjambak rambut Om Robert dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku berusaha berpegang pada atas meja untuk menopang tubuhku agar tidak jatuh ke depan atau ke belakang.

Badanku terasa mengejang serta cairan vaginaku terasa mulai meleleh keluar dan Om Robert pun menjilatinya dengan cepat sampai vaginaku terasa kering kembali. Badanku kemudian direbahkan di atas meja dan dibiarkannya kakiku menjuntai ke bawah, sedang Om Robert melebarkan kedua kakinya dan siap-siap memasukkan penisnya yang besar dan sudah tegang dari tadi ke dalam vaginaku yang juga sudah tidak sabar ingin dimasuki olehnya.

Perlahan Om Robert mendorong penisnya ke dalam vaginaku yang sempit dan penisnya mulai menggosok-gosok dinding vaginaku. Rasanya benar-benar nikmat, geli, dan entah apa lagi, pokoknya aku hanya memejamkan mata dan menikmati semuanya.
“Aawww.. gede banget sih Rob..!” ujarku karena dari tadi Om Robert belum berhasil juga memasukkan seluruh penisnya ke dalam vaginaku itu.
“Iyah.., tahan sebentar yah Sayang, vagina kamu juga sempitnya.. ampun deh..!”
Aku tersenyum sambil menahan gejolak nafsu yang sudah menggebu.

Akhirnya setelah lima kali lebih mencoba masuk, penis Om Robert berhasil masuk seluruhnya ke dalam vaginaku dan pinggulnya pun mulai bergerak maju mundur. Makin lama gerakannya makin cepat dan terdengar Om Robert mengerang keenakan.
“Ah Rin.. enak Rin.. aduuh..!”
“Iii.. iyaa.. Om.. enakk.. ngentott.. Om.. teruss.. eehh..!” balasku sambil merem melek keenakan.

Om Robert tersenyum mendengarku yang mulai meracau ngomongnya. Memang kalau sudah begini biasanya keluar kata-kata kasar dari mulutku dan ternyata itu membuat Om Robert semakin nafsu saja.
“Awwh.. awwh.. aah..!” orgasmeku mulai lagi.
Tidak lama kemudian badanku diperosotkan ke bawah dari atas meja dan diputar menghadap ke depan meja, membelakangi Om Robert yang masih berdiri tanpa mencabut penisnya dari dalam vaginaku. Diputar begitu rasanya cairanku menetes ke sela-sela paha kami dan gesekannya benar-benar nikmat.

Kini posisiku membelakangi Om Robert dan dia pun mulai menggenjot lagi dengan gaya doggie style. Badanku membungkuk ke depan, kedua payudara montokku menggantung bebas dan ikut berayun-ayun setiap kali pinggul Om Robert maju mundur. Aku pun ikut memutar-mutar pinggul dan pantatku. Om Robert mempercepat gerakannya sambil sesekali meremas gemas pantatku yang semok dan putih itu, kemudian berpindah ke depan dan mencari putingku yang sudah sangat tegang dari tadi.

“Awwh.. lebih keras Om.. pentilnya.. puterr..!” rintihku dan Om Robert serta merta meremas putingku lebih keras lagi dan tangan satunya bergerak mencari klitorisku.
Kedua tanganku berpegang pada ujung meja dan kepalaku menoleh ke belakang melihat Om Robert yang sedang merem melek keenakan. Gila rasanya tubuhku banjir keringat dan nikmatnya tangan Om Robert di mana-mana yang menggerayangi tubuhku.

Putingku diputar-putar makin keras sambil sesekali payudaraku diremas kuat. Klitorisku digosok-gosok makin gila, dan hentakan penisnya keluar masuk vaginaku makin cepat. Akhirnya orgasmeku mulai lagi. Bagai terkena badai, tubuhku mengejang kuat dan lututku lemas sekali. Begitu juga dengan Om Robert, akhirnya dia ejakulasi juga dan memuncratkan spermanya di dalam vaginaku yang hangat.

“Aaah.. Riin..!” erangnya.
Om Robert melepaskan penisnya dari dalam vaginaku dan aku berlutut lemas sambil bersandar di samping meja dapur dan mengatur napasku. Om Robert duduk di sebelahku dan kami sama-sama masih terengah-engah setelah pertempuran yang seru tadi.

“Sini Om..! Karin bersihin sisanya tadi..!” ujarku sambil membungkuk dan menjilati sisa-sisa cairan cinta tadi di sekitar selangkangan Om Robert.
Om Robert hanya terdiam sambil mengelus rambutku yang sudah acak-acakan. Setelah bersih, gantian Om Robert yang menjilati selangkanganku, kemudian dia mengumpulkan pakaian seragamku yang berceceran di lantai dapur dan mengantarku ke kamar mandi.

Setelah mencuci vaginaku dan memakai seragamku kembali, aku keluar menemui Om Robert yang ternyata sudah memakai kaos dan celana kulot, dan kami sama-sama tersenyum.
“Rin, Om minta maaf yah malah begini jadinya, kamu nggak menyesal kan..?” ujar Om Robert sambil menarik diriku duduk di pangkuannya.
“Enggak Om, dari dulu Karin emang senang sama Om, menurut Karin Om itu temen ayah yang paling ganteng dan baik.” pujiku.
“Makasih ya Sayang, ingat kalau ada apa-apa jangan segan telpon Om yah..?” balasnya.
“Iya Om, makasih juga yah permainannya yang tadi, Om jago deh.”
“Iya Rin, kamu juga. Om aja nggak nyangka kamu bisa muasin Om kayak tadi.”
“He.. he.. he..” aku tersipu malu.

“Oh iya Om, ini titipannya ayah hampir lupa.” ujarku sambil buru-buru menyerahkan titipan ayah pada Om Robert.
“Iya, makasih ya Karin sayang..” jawab Om Robert sambil tangannya meraba pahaku lagi dari dalam rokku.
“Aah.. Om, Karin musti pulang nih, udah sore.” elakku sambil melepaskan diri dari Om Robert.
Om Robert pun berdiri dan mencium pipiku lembut, kemudian mengantarku ke mobil dan aku pun pulang.

Di dalam mobil, supirku yang mungkin heran melihatku tersenyum-senyum sendirian mengingat kejadian tadi pun bertanya.
“Non, kok lama amat sih nganter amplop doang..? Ditahan dulu yah Non..?”
Sambil menahan tawa aku pun berkata, “Iya Pak, dikasih ‘wejangan’ pula..”
Supirku hanya dapat memandangku dari kaca spion dengan pandangan tidak mengerti dan aku hanya membalasnya dengan senyuman rahasia. He..he..he..

Category:
��
2:07 AM | Posted in

Ini adalah kisahku dan awal perkenalan ku dgn dia, wktu itu aku masih kuliah, aku berkulit putih rambut hitam ikal. tinggi aku 170cm. postur badan aku biasa aja tdk terlalu kurus tp cukup berotot. sedangkan dedek aku (penis aku) panjangnya 17cm dgn diemeter 6,5cm. ukuran yg lumayan buat orang asia

Awal aku mengenal dia dari chating, sebut saja nama nya indah(bukan nama sebenarnya). dia seorang istri yg kesepian karena suaminya tdk perduli lg dgn dia., mbak indah sudah 5 tahun tdk pernah lg mendapatkan kehangatan dr suaminya. itu semua berawal semenjak dia menangkap basah suaminya berselingkuh dgn wanita lain. mbak indah adalah sosok perempuan yg sempurna, kulit kuning halus, hidung mancung kecil mungil, tinggi 165 berat badan 46, ukuran BH 34. rambut lurus dan halus. waktu itu aku msh kuliah di salah satu perguruan swasta di jogja. seperti biasa aku chating di sore hari, hai.. boleh kenal dong..saya andre, kamu siapa..boleh tau nama kamu. dari seberang dia menjawab, saya indah. senang berkenalan dgn kamu, akupun membalas. singkat cerita kamipun akrab dan saling memberikan no tlp, kami sudah tidak lg ngobrol di chating, tp kami lebih byk ngobrol di tlp. sore jam 2 indah sampai di jogja, sebelum nya akupun sudah menunggu kedatangannya di tempat yg sudah kami sepakatin.

Aku memperhatikan para penumpang yg turun dari bis, ketika ada seorang cewek cakep turun seperti sedang mencari-cari sesuatu, aku pun segera menyapa nya, indah ya.. sapaku. iya.. kamu andre. iya jawabku. kami pun ngbrol sejenak. gmna perjalanan nya mbak.. asik ga.. tanyaku. waah.. capek ndre.. klo gitu kita langsung ke tempat andre aja, supaya mbak indah bisa istrahat sejenak, aku menawarkan, ya baiklah. jawab mbak indah. akhirnya kami pun segera meluncur menuju tempat kost ku.setelah beberapa menit sampailah kami di tempat kost ku. kita sudah sampai mbak, ayo masuk.jgn malu-malu, rayuku. mbak indah pun mengikuti langkahku sambil berkomentar, kost kamu bagus juga ya ndre, yaa.. sedanglah mbak.. jawabku singkat. kamu bisa aja ndre, sukanya jawab sedang mulu. looh.. sedang itukan banyak artinya mbak. iya sich.. bls mbak indah. yg mna kamar kamu ndre.. tanya mbak indah, yg ini mbak, jawabku sambil menunjukan arah yg kumaksud. silahkan masuk mbak, jangan sungkan. kita kan da kenal lama mbak, bukan sehari dua hari, sambil meyakinkan mbak idah. akupun membuka pintu dan memprsilahkan masuk. silahkan masuk mbak, sambil aku memperlakukan mbak indah bak mempersilahkan masuk seorang putri raja.

Aku mempersilahkan mbak indah duduk, akupun menyalakan televisi, waah kamar kamu komplet ya ndre, komenta mbak indah, biasa aja ko mbak.. nama nya juga anak kost, akupun mengabilkan minuman segar dari lemari es. Ini mbak minum biar segar, andre tau mbak pasti haus setelah perjalanan jauh. mbak indah pun menerimanya dan meminumnya. klo mbak msh capek istrahat aja dulu sambil nonton tv. ga ko jawab mbak indah, kemudian kami pun telibat obrolan, mulai dr pekejaan, klaurga dan kesepian nya yg terpendam , krn kebutuhan biologis nya tdk tersalur dengan sempurna, di selah-selah obrolan kami, tiba-tiba hp mbak indah berdering, bentar ya ndre. dr temen.. mbak indah menjelaskan. akupun megalihkan pandangan ku ke tv, krn aku tdk mau mendengar pembicaaan orang lain, selesai mbak indah menerima tlp dr temen nya kami pun melanjutkan obrolan kami yg sempat terputus td. andre mau liat photo anak mbak, mbak indah menawarkan. boleh mbak, jawabku. mbak indah pun memperlihatkan photo anak nya yg di simpan di hp. agar bisa melihat photo anak nya akupun merapatkan posisiku lebih dekat ke mbak endah. tanpa sengaja sewaktu melihat-lihat photo anak nya, siku tanganku menyenggol susu mbak indah.maaf mbak, andre ga sengaja, akupun segera meminta maaf. tapi tatapan mataku tetap tertuju pada kedua susunya. gpp ko, jawab mbak indah ringan. klo andre mau lihat susu mbak juga boleh.. mbak indah menawarkan kepadaku seakan yakin apa yg aku inginkan. aku terkejut dan wjahku memerah. aku tdk menyangka akan mendapat durian runtuh. Seperti mimpi rasanya, tp aku masih ragu, apakah mbak indah serius atau hanya memancing saja.. aku memberanikan diri untuk memegang susu mbak indah, akupun mulai menyentuh susu mbak indah, tp mbak indah diam saja. Aku lebih berani dan mulai meremas-remas susu mbak indah.eeeehhmmm… erang mbak indah keenakan. gitu mendapat respon darinya akupun tdk mau lg menyia-nyiakan kesempatan yg ada di depan mata. aku memeluk mbak indah, meremas-emas susunya, mencium dan melumat bibir nya, lidahku bermain di dalam rongga mulutnya sambil di imbangin dgn permainan lidahnya ooouuuhhh… andre.. enak sekali sayang..

Tangan ku trs bergrilya, mulutku melumat bibirnya yg sexy, sementara tangan kiriku meremas-remas susunya, tangan kananku menggesek-gesek selangkangan mbak indah dgn lembut tp pasti… ooooohhh… enak bgt sayang.. andre pinter bgt sayang.. trs sayang.. puting mbak di kulum. pinta mbak indah, aku trs saja mengulum, meremas dan menggesek-gesek selangkangan mbak indah. tangan nya ku bimbing menuju dedekku yg sudah tegang dari td, aku bisikan pelan di telinga mbak indah dgn desahan.. mainin dedeknya andre dengan tangan mbak yg halus itu sayang.. mbak indah pun menurut saja. Aku cium kening mbak indah dgn lembut, trs mata, hidung, trs bibir mbak indah yg mungil n merah itu. segera melucuti pakaian mbak indah satu persatu sambil tetap memberikan ciuman yg hangat dan lembut. ku turunkan trs ciumanku ke leher, puting susu, perut, pusar, memek, selangkangan n paha mbak indah yg mulus.hingga mbak indah benar2 tidak tertutup sehelai benangpun. tubuh mbak indah aku rebahkan dgn lembut, ku mulai lg dari kecupan di kening, hidung, ciuman di bibir. aku melumat habis bibir mbak indah yg sexy dan mungil merah merekah.. lidahku bermain di ringga mulut mbak indah, kedua tanganku meremas-emas dan memilin-milin putting susu mbak indah.. ooouuuhh… andre… enak banget sayang.. mbak jd ke enakan, trs sayaang.. mbak blm pernah mendapatkan sentuhan yg seperti ini, ooouuu…ssssttt mbak indah mendesis tatkalah ujung lidahku menari-nari di putting susunya, ndre.. putting mbak, andre apain sayang.. ko rasa nya enak bgt. mbak indah mulai meracau keenakan. kini kami bedua benar2 bugil.. untuk saja pintu kamar sudah di kunci dan ada suara tv yg agak keras, sehingga tetangga kamarku ga akan mendengar desahan dan jeritan mbak indah.

Kini aku mulai melumat memek mbak indah.. aku sibak rumput yg menutupin parit memek mbak indah.. busseet.. gumanku.. memek nya begitu wangi merah dan bersih. tanpa ragu lagi, mulai ku daratkan ujung lidahku ke bibir memek mbak indah.. eeemm.. oooo.. sssstttt….enak sayang… oya, trs ndre.. mbak suka bgt andre isep memek mbak.. akupun semakin bergaiah mendengar racauan dan rintihan mbak indah, ku lumat habis memek dan klitoris ,mbak indah, mbak indah mengglinjang-glinjang tak karuan saat aku melumat habis memek dan klitoris nya, ndre.. ayo sayang.. masukin sayang.. mbak ga kuat lg, aku tetap saja memainkan ujung lidahku du lubang kenikmatan milik mbak indah, sayaaang.. mbak ga tahan lagi niih.. mbak isap dedek andre ya.. pintaku, mana sayang biar mbak isap dedek andre yg gede dan enak itu. akupun melakukan posisi 69 agar kami bisa saling menghisap kemaluan, setiap aku ganas menghisap memeknya, mbak indah pun mengerang dan menghisap dan mengocok dedek aku dgn galak. ndre.. dedek andre gede banget sayang.. klo di masukin ke memek mbak pasti enak ndre.. mbak indah semakin meacau, bentar sayang.. mencoba menenangkan mbak indah, merasa ketengan dedekku sdh maksimal akupun mulai memasukan dedekku ke lubang memek mbak indah yg dari td sudah basah kuyup, aku melebarkan selangkangan mbak indah dan mengarahkan dedekku tepat di depan lubang memek mbak indah. tahan ya sayang.. andre tekan memek mbak pelan-pelan.. kataku, akupun mulai menekan pelan-pelan.. ooouuuww… mbak indah menjerit.. memek nya begitu sempit, sehingga aku agak kesusahan untuk memaksukannya, aku berusaha trs dan akhirnyapun berhasil masuk, tatkalah dedekku masuk seluruhnya.. tiba-tiba mbak indah menjerit dan memeluk aku.. sakit andre… dedek andre terlalu besar.. memek mbak kesakitan, rintihan mbak indah terishak-ishak sambil kesakitan, sabar ya sayang.. nanti juga enak ko, aku mencoba menenang kan mbak indah.. pelan-pelan tp pasti aku memaju mundurkan pinggangku agar mbak indah tdk terlalu merasakan sakit, aku memaju mundurkan pinggang ku dgn sabar dan hati-hati. Setelah dedekku mulai agak licin kluar masuk di memek indah, akupun mulai mempecepat gerakan ku. oooowwwww…. ndre…. enak bgt sayang.. trs sayang… racau mbak indah.. aku percepat lg goyangan ku sambil meremas-remas kedua susunya.

Aku trs saja menggenjot memek mbak indah yg masih sempit dan enak itu, mbak indah meracau ga karuan kepalanya di gelengkan kekiri dan ke kanan, matanya merem melek kadang mendelik tatkalah aku menhujam keas-keras dedekku ke lubang memeknya. Oooooccchh…. Oouuuwwwhhh aaaakkkkhhh… andre sayang.. mbak mo kluaaar… trs sayang genjot yg cepaaat.. ooouuueewwwhhhh enak bgt dedek andre. mbak mau bgt sayang.. pokok nya mau terus di sodok-sodok sama dedek andre. sambil memeluk andre, mbak indah mengerang.. oooouuueuww.. mbak indah pun orgasme, terasa lahar hangat milik memek mbak indah menyirami batang dedek ku, aku balikan tubuh mbak indah. kini posisi mbak idah tengkurap, aku pun mulai menekan dedek ku dari belakang.. aku lebarkan kedua kaki mbak indah agar aku lebih mudah menghujamkan dedek ku ke lubang memek nya, aku tekan trs sampai kandas.. ooowww.. enak bgt memek mbak sayang.. andre jd ketagihan pengen ngentot mbak trs.. trs aku genjot memek mbak indah. kini kaki mbak indah aku rapatkan kembali, hal ini bisa menimbulkan sensasi remasan vagina yg sangat nikmat, aku genjot trs dari belakang dgn posisi aku menindih tubuh mbak indah.. aku semakin memepercepat gerakan ku, beberapa menit kemudian mbak indah menjerit.. ndre.. oooowwwwhh… mbak mo kluar lg sayaang… oooooo,,, enak bgt siich.. dedek andre.. sampe-sampe mbak kluar lg.. aku trs saja memacu gerakan ku, kini posisi aku ganti dogy style, aku menarik pinggang mbak indah agar setengah berdiri, aku genjot terus mbak indah sambil menarik-narik pinggul mbak indah. mbak indah mengeleng-gelengkan kepalanya, mendapatkan sensasi yg luar biasa dr setiap sodokan dedeku, aku trs sama memacu, memaju-mundurkan pinggangku, baru beberapa menit kemudian mbak indah orgasme kembali, sudah tiga kali mbak indah orgasme, sementara aku blm mencapai puncak. posisi aku ganti lg, tubuh mbak indah aku miringin. dgn posisi badan mbak indah miring ke samping, kaki kanan di bawah, kaki kiri andre angkat ke pundak andre, andre mulai lg menghujamkan dedek andre lbh kandas.. posisi ini memungkinkan batang kontol bisa amblas semua tanpa hambatan, bagi perempuan akan berasa sakit di pinggang dan leher rahim, baru beberapa menit andre genjot dgn posisi ini mbak endah da oegasme kembali.. ndre… ooowww…sssttttt… mbak kluar lg.. aku trs saja menggenjot memek mbak inah yg sudah membengkak dan becek itu, suara-suara becek pun mulai terdengar, cplok.. cplok..clpok..clpok.. di setiap hentakan yg aku berikan. aku kembali lg ke posisi semula, posisi standart, aku tekan dan tidak begitu sulit lg dedekku untuk masuk ke lubang memek mbak indah krn memek mbak indah sudah terlalu becek.. andre sayang.. ayo kluarin dong sayang… knp di tahan-tahan.. mbak da ga kuat lg, aku ga tega melihat mbak indah yg sudah memohon untuk menyelesaikan nya, iya mbak, jawabku, mbak kakinya di rapetin sayang.. jgn di kangkangin, iya syang di rapetin. bls mbak indah.. begitu kaki mbak indah rapat aku langsung mempercepat gerakanku, ndre ooowww,,, uuuuggghhg.. sayaaaaaaang…. enaak bangeeeet… memek mbak seperti di pijat-pijat.. iya mbak… dedek andre juga seperti di remas-remas.. enak banget mbak.. oooo.. memek mbak indah enak banget sayang.. andre mo kluar.. aku pun semakin mempecepat gerakan ku, tiba-tiba.. oooowwww… mbak juga mo kluar sayang.. barengan yuuuk…ajak mbak indah.. kamipun dgn isyarat menyamakan irama kami, dan kamipun orgasme secara bersamaan.. mbaaaak… andreeee.… bareng mbaaaak.. iya sayaaaaang… ooooouuuuwwwhhh.. sssstttt… aaaaaaaahhhkk… kami orgasme bersamaan sambil berpelukan. andre hebat bgt sayang.. mbak puas bgt hari ini, belum pernah mbak dpt yg sepeti ini, wajah mbak indah klihatan sumringah. mbak bener-bener puas, aku bisa mengartian semua kata-kata mbak indah.

Selama ini mbak indah memang bener-bener haus akan sex dan perhatian yg kurang dia dapatkan dari suami nya.ku biarkan tubuh mbak indah yg masih bugil tidur di pelukan ku, tangan kananku mengusap-usap kening nya, dan tangan kiriku membelai-belai rambut yg ada di memek mbak indah. kamu bener-bener hebat ndre… kamu sudah byk pengalaman tentang sex, dan kamu sangat kuat. puji mbak indah. aaah… andre biasa aja mbak, jawabku merendah. mbak juga hebat.. mampu bertahan dari serangan-serangan andre. puji ku. boleh ga mbak meminta sesuatu.. tanya mbak indah penuh isyarat. apa itu mbak.. selagi mampu andre akan berikan buat mbak indah. tanyaku kembali. mbak ingin dedek andre yg gede panjang dan kuat itu cuma milik mbak seorang, jgn berikan buat yg lain, pinta mbak indah. aku tersenyum, yakinlah mbak.. dedek andre cuma buat mbak seorang, tidak akan ada yg menikmati kedasyatan dedek andre ini, jawabku meyakinkan mbak indah sambil membimbing tangan mbak indah ke arah dedek ku. mbak indah percaya dan hatinya pun tenang. kamipun tertidur pulas sambil berpelukan, tv tetap aku biarkan menyala agar teman kost ku tidak curiga. malam tepat jam 7 mbak indah aku antar pulang sampai terminal, aku perhatikan dari raut wajahnya dia begitu berat berpisah dgn ku. aku kirim sms ke no hpnya agar mbak indah tdk perlu khawatir dan akan tetap ku pegang kata-kataku, mbak indah pun tersenyum puas. bis pun melaju. mbak indah hilang dari pandanganku

Category:
��
1:53 AM | Posted in

Aku termasuk pria yang paling suka dengan wanita yang lebih tua dariku. Itu mulai dari umurku yang ke-30, sekarang umurku sudah mencapai 37. Memang tidak semua wanita yang lebih tua termasuk kesukaanku. Karena aku paling senang melihat yang terutama kulitnya berwarna kuning langsat. Apalagi ibu-ibu yang kerut mukanya tidak kalah dengan anak perawan saat ini. Ada kemungkinan biasanya mereka paling teratur merawat badan mulai dari minum jamu hingga luluran.

Sebulan yang lalu aku pergi kerumah sepupuku Ary di daerah Bogor, kebetulan rumahnya berada didalam gang yang tidak bisa masuk mobil. Jadi mobilku aku parkir di depan gang dekat sebuah salon. Setiba dirumah Ary, aku disambut oleh istrinya. Memang istri si Ary yang bernama Sandra 30 tahun memang dikategorikan sangat sexy, apalagi dia hanya mengenakan daster.



“Mas Ary sedang ke Pak RT sebentar Mas, nanti juga balik,” sapa si Sandra.


“Oh ya..” jawabku singkat.

Aku disuruh duduk diruang tamu, lalu dia kembali dengan satu cangkir the manis, karena kursi diruang tamu agak pendek, maka dengan tidak sengaja aku dapat melihat persis sembulan kedua belah dada si Sandra yang tidak mengenakan BH. Wach pagi-pagi sudah dibuat pusing nich pikirku. Tapi aku hilangkan pikiranku jauh-jauh, karena aku pikir dia sudah termasuk keluargaku juga.

Akhirnya setelah Ary tiba, kami bertiga ngobrol hingga sore hari. Lalu aku izin untuk menghirup udara sore sendirian, karena aku akan nginap dirumah si Ary hingga besok pagi. Aku berjalan kedepan gang sambil melihat mobilku, apakah aman parkir disana. Setelah melihat mobil aku mampir ke salon sebentar untuk gunting rambut yang kebetulan sudah mulai panjang. Disana aku dilayani oleh seorang ibu, umur kurang lebih 40-45 tahun, kulit kuning langsat, body seperti layaknya seorang ibu yang umurnya seperti diatas, gemuk tidak, kurus tidak, sedangkan raut mukanya manis dan belum ada tanda-tanda keriput dimakan usia, malah masih mulus, saya rasa ibu tsb sangat rajin merawat tubuhnya terutama mukanya.

“Mas mau potong rambut atau creambath nich,” sapa ibu tersebut.


“Mau potong rambut bu” jawabku.

Singkat cerita setelah selesai potong rambut ibu tersebut yang bernama Rini menawarkan pijat dengan posisi tetap dibangku salon. Setelah setuju sambil memijat kepala dan pundak saya, kami berkomunikasi lewat cermin di depan muka saya.

“Wach pijatan ibu enak sekali” sapaku.


“Yach biasa Mas, bila badan terasa cape benar, memang pijatan orang lain pasti terasa enak” jawabnya.


“Ibu juga sering dipijat kalau terlalu banyak terima tamu disalon ini, soalnya cape juga Mas bila seharian potong/creambath rambut tamu sambil berdiri” jawabnya lagi.


“Sekarang ibu terasa cape enggak” tanyaku memancing.


“Memang Mas mau mijitin ibu” jawabnya.


“Wach dengan senang hati bu, gratis lho.. kalau enggak salah khan biasanya bila terlalu lama berdiri, betis ibu yang pegal-pegal, benar enggak bu?” pancingku lagi.


“Memang benar sich, tapi khan susah disini Mas” jawab Bu Rini sambil tersenyum.



Naluriku langsung berjalan cepat, berarti Bu Rini ini secara tidak langsung menerima ajakanku. Tanpa buang-buang waktu aku berkata “Bu, ibu khan punya asisten disini, gimana kalau aku pijit ibu diluar salon ini?” pancingku lagi.


“Mas mau bawa ibu kemana?” tanya Bu Rini.


“Sudahlah bu.. bila Bu Rini setuju, saya tunggu ibu dimobil di depan salon ini, terserah ibu dech mau bilang/alasan kemana ke asisten ibu” Ibu Rini mengangguk sambil tersenyum kembali.

Singkat cerita kami sudah berada didalam hotel dekat kebun raya Bogor. Ibu Rini mengenakan celana panjang, dengan baju terusan seperti gamis. Aku mempersilahkan Bu Rini telungkup diatas tempat tidur untuk mengurut betisnya, dia mengangguk setuju.

“Enggak nyusahin nich Mas”


“Tenang saja bu, enggak bayar koq bu, ini gratis lho.” jawabku.

Lalu aku mulai mengurut tumit ke arah betis dengan body lotion. Celana panjang Bu Rini aku singkap hingga ke betisnya, tapi karena paha Bu Rini terlalu besar ujung celana bagian bawah tidak bisa terangkat hingga atas. Ini dia kesempatan yang memang aku tunggu.

“Bu maaf nich, bisa dibuka saja enggak celana ibu masalahnya nanti celana ibu kena body lotion, dan aku memijatnya kurang begitu leluasa, nanti ibu komplain nich”

Kulihat Bu Rini agak malu-malu saat membuka celana panjangnya, sambil langsung melilitkan handuk untuk menutupi celana dalamnya. Lalu aku mulai memijit betis beliau dengan lotion sambil perlahan-lahan menyingkap handuknya menuju pahanya. Kulihat dari belakang Bu Rini hanya mendesah saja, mungkin karena terasa enak pijitanku ini. Saat mulai memijit pahanya body lotion aku pergunakan agak banyak, dan handuk sudah tersingkap hingga punggungnya.

Aku mulai renggangkan kedua kaki Bu Rini, sambil memijat paha bagian dalam. Tampaknya Bu Rini menikmatinya. Tanpa buang waktu dalam keadaan terlungkup aku menarik celana dalam Bu Rini ke bawah sambil berkata “Maaf Bu yach”.

Dia hanya mengangguk saja sambil terpejam matanya, mungkin karena Bu Rini sudah mulai terangsang saat aku pijit pahanya dengan lotion yang begitu banyak.

Wow kulihat pantat Bu Rini tersembul dengan belahan ditengahnya tanpa sehelai rambut yang mengelilingi vagina ibu tersebut. Aku mulai lagi memijit paha bagian atas hingga ke pantatnya dengan menggunakan kedua jempolku. Kutekan pantat Bu Rini hingga belahannya agak terbuka lebar, dengan sekali-kali aku sapu dengan keempat jariku mulai dari vagina ke atas hingga menyentuh lubang anusnya.

“Och.. Och..”

Hanya itu yang keluar dari mulut Bu Rini, rupanya dia mulai sangat amat terangsang, tapi dia type yang pasif, hanya menerima apa yang akan diperbuat kepadanya. Aku mulai nakal, kulumuri kelima jariku dengan lotion lalu aku mulai sapu dari anus hingga kebawah ke arah vagina ibu Rini dan diimbangi dengan makin naiknya pantat Bu Rini.

“Och.. Och.. Mas teruskan Mas.. Och..”

Pelan-pelan kumasukan jari telunjuk dan tengah ke dalam vaginanya, lalu kukocok hingga mentok kedinding bagian dalam vagina, sambil perlahan-lahan jempolku menekan lubang anus Bu Rini. Kulihat Bu Rini agak meringis sedikit, tapi tetap tidak ada sinyal menolak. Jempolku sudah masuk ke dalam anus Bu Rini, perlahan-lahan sambil kulumuri agak banyak body lotion kukocok juga lubang anus Bu Rini, hingga sekali tekan jempolku masuk ke lubang anus, sedangkan jari telunjuk dan tengah masuk ke vaginanya, dan aktifitas itu aku lakukan hingga 3 menit.

Dan kulihat Bu Rini sudah tidak lagi meringis tanda kesakitan disekitar lubang anusnya, tapi sudah terlihat diwajahnya rasa kenikmatan, meskipun matanya terus terpejam hanya beberapa kali tersengah.

“Och.. Och..”

Setelah itu aku jilat kuping Bu Rini dengan lidahku sambil berbisik.

“Aku masukan yach Bu kontolku”

Ibu Rini hanya mengangguk setuju tanpa membuka matanya. Lalu aku buka seluruh pakaianku, lalu aku ganjel perut Bu Rini dengan bantal yang kulipat, supaya pantat dan lubang vaginanya agak menguak ke atas. Lalu aku masukan kontolku ke dalam vagina Bu Rini dan kukocok hingga 15menit, lalu kulihat lendir putih sudah mulai keluar dari lubang vagina Bu Rini.

Rupanya Bu Rini sudah mencapai klimaks hingga mengeluarkan pejunya duluan, lalu aku seka dengan handuk dan kuayun kembali kontolku hingga 15 menit kemudian, hingga Bu Rini mencapai klimaks yang kedua kali. Sedangkan kontolku makin tegang saja tanpa isyarat akan memuncratkan peju. Karena sudah pegal juga pinggangku, aku ambil body lotion kulumuri anus Bu Rini sambil kubuka lubang anus tersebut hingga masuk ke dalam, lalu aku pelan-pelan menekan ujung kontolku hingga masuk ke dalam anus Bu Rini.

“Och.. Pelan-pelan Mas..” Bu Rini mengeluh.

Terus kutekan kontolku hingga masuk ke dalam anus Bu Rini, lalu pelan-pelan aku cabut kontolku. Memang kontolku terasa amat terjepit oleh lubang anus Bu Rini, ini membuat aku mulai terangsang. Kutekan lagi kontolku ke dalam lubang anus Bu Rini, dan pelan-pelan mulai kukocok lubang anus Bu Rini dengan kontolku ini sambil melumuri body lotion supaya lubang anus Bu Rini tidak lecet, terus kulakukan aktifitas ini hingga 5menit dan tiba-tiba peju dikontol mulai mengadakan reaksi ingin berlomba-lomba keluar. Lalu kucabut kontolku, dan kulepaskan seluruh pejuku bertebaran diatas sprei.

Setelah itu Bu Rini langsung membersihkan badannya kekamar mandi, lalu kususul Bu Rini di kamar mandi yang sudah tanpa sehelaipun benang ditubuhnya, lumayan bodynya cukup montok, tetenya sudah agak kendur tapi masih menantang seperti buah pepaya yang masih tergantung dipohon, perutnya juga sudah mulai ada lipatan lemaknya, tapi tetap enak dipandang, karena memang warna kulitnya seluruhnya kuning langsat. Lalu aku bantu Bu Rini saat hendak memakai sabun ditubuhnya, demikian juga aku dibantu juga oleh Bu Rini.

Setelah selesai mandi kontolku mulai bangun kembali, lalu kuminta Bu Rini untuk main kembali, Bu Rini memberikan isyarat ok. Dan kusuruh Bu Rini duduk dikursi tanpa mengenakan pakaian selembarpun, kuangkat kedua kakinya ke atas dengan posisi mengangkang lalu kusuruh Bu Rini memeluk kakinya kuat-kuat, lalu aku jongkok dan mulai menyapu vagina Bu Rini dengan lidahku, sambil jari telunjukku ikut masuk ke dalam vagina bagian bawah sambil mengocoknya. Disini Bu Rini tampak mendesah agak keras.

“Och.. Och.. Och.. Masukan saja Mas.. Aku enggak kuat”

Tanpa buang waktu lagi karena memang kontolku mulai keras kembali, kutekan kontolku ke dalam lubang vagina Bu Rini kembali sambil setengah berdiri, sedangkan kedua kaki Bu Rini sudah bersandar di depan bahuku, terus kusodok vagina Bu Rini dengan kontolku, hingga 30 menit lebih aku belum bisa juga mengeluarkan pejuku. Lalu kuminta Bu Rini untuk mengisap kontolku supaya cepat keluar pejuku ini.

Kedua kakinya kuturunkan lalu aku memegang kedua pipinya ke arah kontolku, lalu aku memasukan kembali kontolku ke dalam mulut Bu Rini, disini kulihat Bu Rini mengimbangi dengan isapan serta air liurnya yang mulai menetes dari mulutnya untuk membuatku cepat mencapai puncak. Memang benar-benar lihai Bu Rini, sebelum mencapai waktu lima menit aku sudah tidak tahan lagi menahan pejuku muncrat didalam mulutnya.

Setelah itu kami berdua membersihkan diri kembali kekamar mandi, lalu kami kembali ke salon Bu Rini. Sebelum keluar dari mobil, aku sempat berbisik kepada Bu Rini. Memang yang lebih tua, sangat paham dalam pengalaman dalam hal ini dibanding dengan yang masih muda. Bu Rini hanya tersenyum manis saja, sambil turun dari mobilku dan kembali masuk ke dalam salonnya.

Category:
��
1:45 AM | Posted in

Perkenalkan namaku A, mahasiswa tingkat 3 sebuah perguruan tinggi swasta di DP. Tinggiku 172 cm berat 67 kg, atletis, wajahku lumayan ganteng, dan dengan modal ini pula aku banyak menarik perhatian gadis-gadis teman kuliahku. Aku tidak mempunyai pacar tetap bukan karena aku homo atau sejenisnya tapi melainkan karena aku tidak terlalu tertarik pada gadis-gadis seusiaku apalagi yang lebih muda. Aku lebih senang kencan dengan tante-tante yang usianya sama dengan ibuku.

Keperjakaanku hilang ketika aku berusia 13 tahun, akibat dikencani oleh seorang janda tetanggaku. Sejak saat itu aku hanya tertarik untuk kencan dengan wanita setengah baya, karena permainan mereka yang aduhai dan mampu membuatku terbang ke awang-awang. Sampai sekarang sudah belasan tante-tante atau janda kesepian yang telah kukencani. Tidak semuanya berdasarkan uang, tapi ada juga yang karena suka sama suka, yang jenis ini biasanya karena wajahnya masih cantik dan bodinya sensual, kalau jelek ya.. terpaksa deh aku pasang tarif lumayan tinggi, hitung-hitung uang lelah.



Pengalamanku yang akan kuceritakan ini mungkin sudah pernah dialami oleh beberapa orang yang rajin membaca situs 17Tahun.com ini, karena berhubungan dengan seseorang yang sangat terkenal khususnya pada tahun 1980-an sebagai seorang artis dan penyanyi. Kejadiannya sekitar tahun 1997 akhir waktu itu aku dan temanku R (laki-laki) sedang ngobrol-ngobrol sehabis pulang sekolah di kawasan Blok M. R bertanya padaku apakah aku mau kencan dengan seorang artis. Aku tentu saja menjawab mau, pikirku kapan lagi bisa kencan dengan tante-tante, artis lagi.

“Siapa artisnya, jangan-jangan Maissy lagi?” kataku setengah meledek R.


“Bukan goblok, emangnya gue phedophili, itu tuh Tante TP”, jawab R.


Aku terkejut bukan main, jadi gosip itu benar bahwa Tante TP wanita setengah baya yang usianya sudah lebih 50 tahun itu suka main dengan anak muda, untuk memelihara kecantikan wajahnya.


“Yang bener loe, Tante TP yang punya operet PPK itu kan, yang dulu suka bawain lagu anak-anak tahun 80-an”, tanyaku memastikan.


“Iya bener, nih gue ada nomor HP-nya.. elo telpon aja kalo kagak percaya.” Jawab R meyakinkanku.


“Oke deh gue percaya, kapan kita ke sana?” tanyaku.


“Besok deh kita cabut aja sekolah itung-itung refreshing oke?” jawab R, aku mengiyakan dan berjanji dengan R untuk bertemu di kafe OLA di PI Mall esok harinya.



Keesokan harinya tepat jam 10.00, aku bertemu R di kafe OLA.


Aku bertanya, “Udah ditelpon belum, Tante TP-nya entar dia telat lagi.”


“Tenang aja deh udah beres, dia sebentar lagi datang”, kata R meyakinkanku.


Benar juga seperempat jam kemudian kulihat sesosok wanita setengah baya mengenakan baju putih berkerudung dan mengenakan kacamata hitam lebar, tampaknya ia tidak mau dikenali orang banyak. Tante TP langsung duduk di tempat kami, dan membayar bill makanan lalu langsung mengajak kami pergi. Kami berdua mengikutinya, lalu kami bertiga meluncur ke hotel SHD di kawasan Sudirman di mana Tante TP sudah menyuruh asistennya untuk mem-booking kamar hotel tersebut. Dia tidak banyak bicara sepanjang jalan kecuali menanyakan namaku dan rumahku. Selebihnya justru aku yang bengong karena sebentar lagi aku akan berkencan dengan seorang artis yang waktu aku kecil dulu aku sering melihat wajahnya di TV membawakan lagu anak-anak kesukaanku.

Akhirnya kami sampai juga, Tante TP menyuruhku dan R untuk naik ke kamar lebih dulu baru kemudian ia menyusul, supaya orang tidak curiga katanya. Aku dan R sampai di kamar langsung saja bersorak kegirangan, “Gila gue ngentot ama TP, pasti anak-anak kagak bakalan ada yang percaya nih.. beneran itu TP yang sering di TV.”

Tak lama kemudian Tante TP menyusul masuk ke kamar, begitu sampai ia langsung membuka kerudung dan kacamatanya, kemudian ia menyuruhku dan R mandi untuk membersihkan badan. Setelah mandi, aku dan R keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk, agak malu juga sih dari balik handuk itu menyembul batang kemaluanku yang ternyata sudah lebih tidak sabar dari tuannya untuk segera merasakan liang sorga Tante TP. Tante TP hanya tersenyum saja, kemudian ia menyuruh kami berdua untuk ikut berbaring di sisinya, Aku di sebelah kanan, R di sebelah kiri. Ia merangkul kami berdua seperti anaknya, kemudian ia mencium bibirku dengan lembut, aku pun membalasnya, R sepertinya iri dan dengan tidak sabar ia meremas payudara Tante TP.

“Aduh sabar dikit dong Nak.. nanti juga Tante kasih”, kata Tante TP sambil tersenyum pada R dan kemudian ganti mencium bibir R. Melihat hal itu aku jadi bernafsu juga ingin meremas-remas payudara Tante TP. Perlahan-lahan kubuka kancing bajunya satu persatu dan nampaklah payudaranya yang montok dan masih terlihat kencang dibungkus bra warna pink yang menantang. Aku remas pelan sambil jari-jariku berusaha mencari puting susunya, Tante TP mengerang pelan pertanda ia merasakan kenikmatan saat aku menyentuh puting susunya dari balik BH-nya.

“Ahh.. enak.. sebentarnya Tante buka aja deh sekalian.” Tangan Tante TP meraih ke punggungnya melepaskan hook BH-nya dan sekaligus membuka kemejanya sehingga sekarang ia hanya mengenakan rok panjang berwarna hitam. Payudaranya montok dan menantang ukurannya sekitar 36C, putih dan mancung dengan puting yang berwarna agak kecoklatan. Aku dan R jadi sangat bernafsu, segera saja kami berdua meremas payudara Tante TP satu orang satu. Tante TP mengerang dengan penuh nafsu. “Ayo dong anak-anak hisap pentil Tante”, katanya memohon. Tidak perlu disuruh dua kali, aku dan R segera mengisap puting susu Tante TP, menjilat, menghisap, sambil sesekali kugigit pelan. “Ahh.. enak.. ohh.. agak keras gigitnya dong.. achh..!” erangan Tante TP justru semakin membuatku dan R bernafsu mengisap dan mengigit puting Tante TP.

Tante TP tidak diam saja, ia juga bereaksi dengan menyingkapkan handuk yang dipakai olehku dan R, kemudian tangannya menggengam batang kemaluan kami satu tangan satu. Tante TP agak terkejut dengan ukuran batang kemaluanku yang 21 cm dengan diameter 3,5 cm, batang kemaluan R sedikit lebih pendek yaitu 19 cm dengan diameter yang sama. Batang kemaluan kami diremas dan dikocok pelan, kemudian agak kencang, membuat kami menggelinjang dan semakin bernafsu untuk menikmati payudara Tante TP. “Aduh Tante jangan keras-keras nanti keluar loh..!” kata R setengah bercanda. “Jangan keluar dulu dong anak manis.. Tante belum apa-apa nih, lagipula jangan keluarin di sini, nanti aja di mulut Tante biar Tante minum semua sperma kamu.” Aku berpikir, jadi gosip itu benar bahwa Tante TP gemar mengkonsumsi sperma anak-anak muda untuk menjaga keindahan kulit dan tubuhnya. Pantas saja, walaupun usianya sudah lebih 50 tahun, tubuhnya masih terlihat seperti umur 25-an.

Kemudian kami berganti posisi, Tante TP bergerak ke arahku kemudian membuang handukku ke lantai. Kemudian Tante TP menggenggam batang kemaluanku dan menjilati ujungnya yang terlihat ada setetes precum akibat aku sudah terangsang hebat. Ia kemudian memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya mulai dari kepalanya sampai ke ujung pangkalnya sambil meremas-remas biji pelirku. Dia sangat ahli sekali dalam urusan ini, nikmatnya sampai ke ubun-ubun, dijilat, dikulum, bibirnya mengitari sepanjang topi bajanya, sambil ujung lidahnya menusuk-nusuk ke lubang kecil di ujung batang kemaluanku berharap masih ada precum yang tersisa.

“Ahh.. Tante enak banget Tante.. ohh..!” desahku menahan nikmat yang tiada tara. Untung aku punya pengalaman dengan tante-tante, kalau tidak.. pasti sejak tadi aku sudah muncrat, saking jagonya hisapan Tante TP. Sementara Tante TP asyik menikmati batang kemaluanku, R tidak tinggal diam, dia menyibakkan rok Tante TP sampai terlihat celana dalamnya dan pelan-pelah R menurunkan celana dalam hitam milik Tante TP dan terlihatlah liang kewanitaan Tante TP yang ditumbuhi oleh bulu-bulu yang lebat, pahanya terlihat mulus bagai pualam, bukti wanita ini tahu bagaimana merawat diri dengan baik.

Tante TP kemudian membuka roknya dan melemparnya ke lantai. Kini ia sudah telanjang bulat, Aku dan R sungguh sangat mengagumi kemulusan dan kemolekan tubuh Tante TP, benar-benar luar biasa untuk wanita seusianya. Tante TP kembali mengulum batang kemaluanku dan R mengambil posisi di bawah Tante TP, dan bersiap menikmati liang kewanitaan Tante TP. Ia mengelus paha Tante TP, kemudian menjilatinya mulai dari lutut terus naik ke atas ke lubang surga Tante TP. R menyibakkan bulu-bulu yang menutupinya kemudian ia menjulurkan lidahnya mencari-cari klitoris Tante TP, menjilatnya sambil dijepit dengan kedua bibirnya.

“Achh.. oohh.. anak nakall.. awww..!” Tante TP mengerang-ngerang seperti orang gila ketika klitorisnya diperlakukan seperti itu. Cairan kewanitaannya tampak meleleh membasahi bibir R yang sepertinya justru menyukai rasanya. “Ohh.. aku nggak tahan deh anak-anak, ayo kita mulai aja deh”, kata Tante TP sambil membalikkan badannya dan beralih menghampiri batang kemaluan R. “Kamu masukin batang kemaluan kamu sekarang ya A, aku hisap batang kemaluan teman kamu”, katanya memberi komando, aku hanya mengangguk setuju.

Tante TP mengambil posisi doggy style, ia menungging dan mengarahkan liang kewanitaannya padaku. Aku menyaksikan liang kewanitaannya yang berwarna merah muda itu terbuka di hadapanku dan tampak cairan kenikmatannya meleleh keluar. Aku segera mengambil posisi, kupegang batang kemaluanku dan mulai mengarahkannya ke liang kewanitaan Tante TP, pelan-pelan kumasukkan sambil tanganku berpegang pada kedua bongkahan pantat Tante TP. Liang kewanitaannya sempit dan agak susah untuk batang kemaluanku yang besar untuk masuk padahal cairan kenikmatannya sudah mengalir deras.

Pelan-pelan kumasukkan dan ketika kepalanya berhasil masuk kuhentakkan pantatku, akhirnya batang kemaluanku berhasil masuk semuanya, Tante TP agak terdorong ke depan dan berteriak ketika batang kemaluanku masuk ke liang kewanitaannya. “Ahh.. enak A, terus kocok kontol kamu di liang memek Tante.. ahh!” teriaknya. Aku segera memainkan gerakan maju mundur mengeluarmasukkan batang kemaluanku di liang kewanitaannya yang sempit dan dinding kemaluannya seperti memijit-mijit batang kemaluanku, hisapan lembah sorganya seperti memaksa spermaku untuk keluar. Sementara Tante TP mengulum batang kemaluan R, aku asyik memainkan batang kemaluanku keluar masuk liang kewanitaan Tante TP.

Kira-kira setengah jam kemudian aku merasakan spermaku seperti hendak berontak keluar, kupercepat gerakanku, “Ohh.. Tante.. saya mau keluarr.. nihh..” kataku pelan. Kurasakan badanku mulai tegang dan batang kemaluanku seperti berdenyut dengan keras. Mendadak Tante TP mencabut batang kemaluanku dari liang kewanitaannya dan dengan gerakan cepat ia memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Bersamaan dengan itu aku mencapai klimaks, “Aaahh.. aku mau keluar Tante.. ahh!” tulang-tulangku serasa rontok semua, badanku serasa melayang saat spermaku muncrat di dalam mulut Tante TP. Batang kemaluanku berdenyut keras sambil memuntahkan sperma dalam jumlah yang cukup banyak. Terlihat Tante TP sibuk menelan seluruh spermaku, dia tidak ingin ada yang tersisa. Batang kemaluanku diurut-urut dengan kasar berharap semua spermaku terkuras habis dan pindah ke mulutnya.

Aku langsung terkapar tidak berdaya, tenagaku habis. Seiring dengan dilepasnya mulut tante TP dari batang kemaluanku, ia berbaring telentang sambil membuka kakinya lebar-lebar. “Sekarang giliran kamu nyumbang sperma buat Tante”, katanya sambil tersenyum pada R. R begitu bernafsu langsung menusukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaan Tante TP, keluar masuk dengan lancar karena tadi aku sudah membuka jalannya, ia mengangkat paha Tante TP dan menaruhnya di bahunya agar batang kemaluannya bisa masuk lebih dalam lagi. “Ohh.. Tante.. Aku juga mau keluar sebentar lagi..” katanya lirih. “Iya Nak.. ayo terusin aja..”

Tiba-tiba Tante TP menyuruh R berhenti. “Tunggu dulu ya.. kamu mau ngerasain sesuatu yang baru nggak.” R kontan menjawab mau, Tante TP menyuruh R bergerak agak ke atas kemudian menaruh batang kemaluannya di tengah-tengah payudaranya. Tante TP kemudian menghimpit batang kemaluan R dengan kedua payudaranya, dan menyuruh R kembali melakukan gerakan mengocok-ngocok. Kurang ajar si R dapat atraksi lain tapi aku tidak. Gaya ini ternyata cukup ampuh terbukti baru 5 menit, R sudah mengerang lagi, “Aduh.. Tante nggak tahan nih.. mau keluar..” Tante TP tersenyum, “Ayo keluarin aja..”

Beberapa detik kemudian, R meregang hebat dan langsung Tante TP menggenggam batang kemaluannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. “Ahh.. Tante.. enakk.. ahh..” kulihat R meregang nikmat saat spermanya dihisap habis oleh Tante TP. Dan sama seperti aku ia pun terkulai lemas sesaat kemudian. Tante TP tersenyum penuh kemenangan. “Ternyata kalian anak muda berdua tidak bisa mengalahkan seorang nenek seperti saya”. Aku menjawab, “Terang aja nenek-neneknya penghisap tenaga anak muda.” Kami pun tertawa bersama dan beristirahat sejenak. Lalu kami menikmati hidangan makanan dan minuman yang dipesan Tante TP, dalam keadaan masih telanjang bulat.

“Terus terang aku masih pengen nih, tapi nanti malam ada show di TMII, biasa.. acaranya Mbak TT, Tante belum orgasme nih, kalian bantu Tante masturbasi ya”, katanya. Kami setuju saja, lalu kami membantu Tante TP dengan menjilati payudaranya satu orang satu sementara ia mengocok liang kewanitaannya dengan jari-jarinya. Setelah ia klimaks, kami pun mandi bersama lalu memakai pakaian kembali, lalu bergegas meninggalkan hotel, tapi tidak ada satu pun diantara aku dan R yang mau french kiss dengan Tante TP sebelum pulang, kebayang dong berarti aku ikut merasakan sperma si R dan si R juga merasakan spermaku, nggak janji la yaw.. Sebelum pulang Tante TP menyerahkan amplop yang isinya uang dua juta rupiah, aku dan R langsung berfoya-foya di plaza SNY makan dan belanja sepuasnya.

Category:
��
1:43 AM | Posted in

Aku sedang asik membuat laporan cashflows project yang harus kuselesaikan dan mengirimkannya malam itu juga ke perusahaan partner kami di Paris. Aku ditemani oleh seorang “OB” yang meski sudah beristri dan memiliki 1 orang anak, masih suka senang meladeni/mencari-cari orang yang salah sambung telepon ke kantor. Jam di meja kerjaku 10.30 tapi lampu (line) telepon masih menyala, sambil istirahat sebentar, kucari pesawat mana yang masih online itu. Belum sempat ketemu, “OB”-ku sudah panggil aku lewat intercom dari pentry tempatnya ber-online ria, “Bang, ada yang mau ngomong nih.. ambil yang kelap-kelip ya..” (Bang = Abang; “OB” kantorku yang satu ini selalu meng-Abang-kan).

Dengan malas kuangkat gagang telepon, sambil teriak ke “OB”-ku itu.


“Siapa Nang?”


“Angkat aja.. Bang,” jawabnya lagi sambil teriak dari pentry (pentry dengan mejaku agak berjauhan).


Pada akhirnya salah sambung ini berkelanjutan jadi menarik. Nama orang yang “salah sambung” itu adalah Lia dan dengan setia akan meneleponku setiap 2 minggu sekali setiap jam 21:00 - 24:00 dan akhirnya aku juga jadi menunggu-nunggu telepon dari Lia. Perlu kuberitahukan di sini, sejak pertama telepon, Lia (aku memanggilnya “Li”) ini bicaranya tidak jauh dari selangkangan dan pusar, dan mungkin ini juga yang membuat aku ketagihan melayaninya.



Hingga pada 4 bulan berikutnya, hari Sabtu kami copy darat. Dari situlah baru aku kenal Li dengan wajah melayunya, kulitnya putih, tinggi 162 cm, berat 55 kg, payudara 36C, betis kecil, pantatnya kecil tapi pinggulnya lebih lebar (bahenol), usianya sekitar 35 tahunan. Terus terang, fisiknya dari dada ke bawah lebih meruntuhkan iman, ketimbang wajahnya. Setelah makan dan ngobrol ngalor ngidul, kami ke luar.

“Li, mau terus pulang atau ada acara lain lagi nih..?”


“Aku tadi ijin keluar mau ke Bogor, tempat temen waktu SMA, jadi kayaknya kalo pulang sekarangmasih kesiangan deh.. kita jalan aja yuk..!”


“Kemana?” tanyaku, sambil menggoda nakal.


“Ah.. kamu ngelantur deh..” sambil mencubit pinggangku.


aku hanya meringis, sambil aku langsung gandeng pinggangnya menuju mobil di parkiran. Keluar dari Wendy’s, aku langsung mengarahkan mobil ke tol Jagorawi. Setelah masuk tol,


“Kok, kita ke sini.. mau kemana?”


“Ya.. ke Bogor lah.. paling tidak kan, kamu nggak terlalu banyak bo’ongnya.”


Lia diam saja sambil merenggut manja dan memalingkan wajah ke luar.



Kupegang bahunya, “Jangan marah gitu doong, eh.. tapi kamu manis juga kalo lagi cemberut gitu..” lagi-lagi Lia mencubitku di pinggang. Kali ini kubiarkan, malah kutangkap tangannya dengan tangan kiri, dan kutaruh tangannya di pangkuanku. Lia tidak menarik tangannya, malah mengelus-elus perlahan bagian terlarangku sampai menggeliat di balik celana. Mobil memasuki jalan desa di pesisir Kali Cisadane dan berbelok masuk ke rumah yang kubeli untuk beristirahat.

“Li.. kita udah sampai, yuk.. masuk..” aku mendahului langsung masuk kamar, membuka kaos dan jeans lalu menggantinya dengan celana pendek.


“Li, kalo kamu mau pakai celana pendek atau kaos, di dalam ya..” teriakku dari dalam.


“Iiihh.. emangnya aku mau langsung ngamar gitu..” sambil berjalan ragu-ragu, melongokkan wajah ke pintu kamar.


“Eh.. yang mau begituan siapa..?”


“Aku mau berenang di kali bawah, kalo kamu mau ikut, ganti kaos dan celana pendek, nih..”

Belum lagi Lia masuk, aku sudah berlari ke luar dan di pintu bertabrakan dengan Lia yang maumasuk. Kami jatuh bertindihan dan tertawa bersama-sama. “Li, gila nih.. aku jadi kepinginbanget.. tadi niatnya mau berenang, tapi jadi berubah kebelet gini..” Dengan refleks kubopong Lia ke dalam kamar dan kubimbing untuk berdiri sambil kupeluk dari belakang, mulut dan bibirku ramai dengan kecupan rangsangan yang lembut namun bergairah di telinga, tengkuk, dan leher, tanganku mengusap-usap di sekitar perut. Ketika rangsangan itu menjalar di dadanya, Lia membalik, “Gi.. Aku juga spaning, nih..” sambil bibirnya terbuka dengan gemetar sensual karena gairah, mencari-cari bibirku. Kulumat bibirnya, kukecup bibir bawahnya dan kuputar dan kulepaskan dan langsung memasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Belum lagi Lia siap, aku sudah menangkap lidahnya dan menghisapnya dalam-dalam, sambil tangan kiri menopang punggung, tangan kanan menjalar di antara dua bukit kembar bergantian. Lia terlihat sangat bergetar, menahan gejolak akibat rabaan tanganku di dadanya dan sedotan mulutku pada lidahnya sembari berjalan perlahan ke belakang untuk bersandar pada dinding kamar. Kutarik lepas BH-nya, aku agak renggangkan dan mengangkat tangannya ke atas untuk melepas t-shirtnya, dan menarik turun jeans beserta celana dalam yang dipakainya.

Lia tidak ketinggalan menarik lepas celana pendek dan CD yang kukenakan sekaligus, aku pun melepas kaosku sendiri. Sehingga kami sudah berbugil ria tanpa sehelai benangpun yangmelekat. Pada posisinya berdiri kujilati sekitar permukaan vaginanya, jari-jariku bermain indah menyibakkan rambut di belahan kemaluannya yang coklat kemerahan dan lembab yang beraroma khas wanita, menciumi bibir luar vagina sebelah luar dan menjepitnya dengan bibir serta menariknya dengan lembut, melepaskannya, dan berulang-ulang, terlihat Lia menggeletar dan sedikitmembungkuk, menahan geli dan gejolak yang luar biasa, “Ssshh.. ah.. Gi.. sshh.. aduuhh.. enak bangeet.. sshh.. ahh..” kumasukkan lidah ke dalam liang vagina dan mengeluar-masukkannya secara teratur. Vagina Lia sudah banjir air liur dan cairan birahi kewanitaannya.

Lia memegang rambutku dan menekan-nekan kepalaku ke arah vaginanya, sambil menceracau. “Ogi.. ahh.. sshh.. terus masukin lagi.. sayang.. aduhh.. ahh.. lebih enak oralnyaini dari pada online, sayangghh.. sshh.. ahh..” (Selama kurang lebih 4 bulan Liaselalu melakukan “bercinta/mastubrasi” selama sedang online denganku). Kubimbing Lia untuk merebah di lantai yang berkarpet, dan kuputar tubuhku 180 derajat sehingga posisi “69″, dan langsung dilahapnya kemaluanku yang sudah menegang dan mengacung melengkung ke atas, dikulum, disedot, bukan main nikmatnya, sampai-sampai tidak bisa berkonsentrasi untuk mengerjaivaginanya. “Aahh.. agghh.. sshh agghh..” Hampir 10 menit kami melakukan posisi itu, dan sambil mengangkat pantatnya dan pinggulnya, Lia mengeluarkan cairan dari vaginanya, lembut hangat terasa di ujung lidahku. Aku seka dengan lidah dan kusedot sampai kering, nikmat sekali protein itu, dan Lia berhenti sejenak untuk ketegangan dan orgasme yang dilaluinya. “Ahh.. ahh.. ayo bikin aku keluar lagi sayang..”

Kuusap lagi vaginanya dan menekan-nekan di antara lubang vaginanya yang kiri dan kanan, sambilmenarik-narik rambut kemaluannya, sambil menjepit klitorisnya dengan bibirku. Sekali-kali kujulurkan lidahku menyentuh bagian dalam vaginanya, dari kekenduran sehabis orgasme. Vaginanya mulai terlihat menegang kembali, terus kupacu sampai kembali berdenyut-denyut seperti nadi. Sementara batang penis dan “topi baja” tak henti-hentinya dikerjai dan dijilati oleh Lia, yang hampir aku tidak kuat menahan. Sebelum terlontar, ternyata Lia sudah benar-benar “siap tempur” di vaginanya. “Ayo, Gi.. masukin kontol kamu ke memekku, aku udah enggakkh shhabar.. nihh..ahh..” Kulepaskan perlahan penisku dari genggaman dan kulumannya. Posisi kami sekarangberhadap-hadapan, kuangkat/berdirikan pahanya dan posisi telapak kaki tetap pada karpet, sehingga vaginanya benar-benar terlihat dan terkuak dengan lebarnya, dan kupandangi.

“Li, memek kamu seksi banget, belum pernah aku nemuin yang kayak gini..” (berbohong).


“Ayoo.. dong Gi.. udah nggak nahan nih.. kok cuma diliatin aja sih,” sambil memegangi paha.


Terus ke arah vagina yang sudah lembab dan licin itu, kuarahkan penis yang sudah menegang melengkung dan mengkilap kepalanya itu ke vaginanya. Perlahan-lahan masuk, dan dengan tiba-tiba kutancapkan sampai sedalam-dalamnya. “Aghh.. gila.. kamu.. asshh..” tanpa menjawab kuputar searah jarum jam berkali-kali dan ke arah sebaliknya tanpa menarik penis, baru perlahan-lahan kutarik dan tekan, mulailah ceracaunya, “Aaghh.. Gi.. ahh.. agghh..” aku juga mengalami hal yang sama, “Li.. memek kamu hangat, dan kayak ngejepit kontolku nih.. ahh.. agghh..” Peluh sudah membanjir di tubuhku dan Lia, cairan birahi telah membanjir di dinding vagina Lia, sehingga menimbulkan suara yang romantis dan binal, “SsebBH.. beebb.. sebb..” berulang-ulang.

Lebih 15 menit kutarik keluar seluruh penisku, sehingga menimbulkan bunyi, “Plob..” Lia benar-benar sedang “on” dan nyaris klimaks, dan langsung melihat ke arahku.


“Kenapa dicabut sayanghh..”


“Sabar, ya.. kamu udah mau keluar khan.. tahan dulu yah..” sembari ganti posisi sambil kami istirahat, biar asik klimaksnya.


Tanpa menjawab Lia setuju dengan alasan yang kuberikan. Kutelungkupkan posisi merangkak (doggy style) dan kumasukkan ke vaginanya, terpeleset.. dan dengan bantuan tangan Lia akhirnya penis yang sudah mengkilap saking tegangnya itu berhasil masuk ke dalam, dan mulai menarik dan mendorong pantat untuk menikmati permainan ini sampai puncak. kuraih bukit kembar yang bergelantungan, kuusap putingnya, kutarik-tarik dan kutekan, kujilati punggungnya yang penuh dengan peluh. Terlihat Lia menegang dan aku tidak tahan lagi, kucabut penis dan kubalikkan posisi Lia menjadi terlentang, kembali kumasukkan penisku ke vaginanya terus kupertahankan irama permainan sesantai mungkin. Rupa-rupanya cara inilah wanita yang biasatergila-gila dalam mencapai orgasme klimaksnya yang tiada tara.

“Gi.. tekan sayang.. ahh.. agghh.. sshh..” bergantian ceracau kami berdua. Kamisama-sama menegang, terus berpacu dengan kenikmatan gelora yang tiada tara, dan pada hampir menit ke-50, kubisikkan kepada Lia,


“Aku.. udahh.. mau keluar.. sayangghh.. agghh.. sshh.., bagaimana dengan kamu..?”


“Aku juga mau keluarhh..” jawab Lia sambil merem-melek.


“Ayoo.. kita keluarin bareng yahh.. aduhh.. sshh.. agghh..”


Kami menegang, Lia menjepit pinggangku dan menjambak rambutku. Kuhisap bergantian puting bukit kembarnya sambil sekali-kali kumasukkan semuat-muatnya gundukan bukit itu dan kuhisap serta dilepaskan. Lia tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak tahu mana yang lebih nikmat pada penghujung permainan seks ini, dan aku tidak tahan, hampir bersamaan kami keluarkan cairan bersamaan, seolah tidak ada kering-keringnya. Hampir 14 kali tembakan penisku menyemburkan sperma di dalam vagina Lia, demikian Lia juga kurasakan mengalir seperti mata air, air mani yang dikeluarkannya pada saat klimaks.

Pulang dari Bogor, kuantar Lia ke rumahnya. Sampai di rumah, ternyata Lia masih berhasrat lagi, kebetulan di rumah hanya ada anaknya yang sudah kelas 2 SMU sedang tidur siang dan pembantu sedang mencuci di belakang. Aku khawatir juga, karena bermain api di kandang macan.


“Suamimu pulang jam berapa?” tanyaku pelan.


“Dia sih jam 9 malam baru sampai,” jawab Lia sambil menyodorkan minuman marquisa dingin.


“Yuk.. kita ke atas!” ajaknya sambil manarik tanganku, dan lagi-lagi aku menurut.


Baru saja kami melakukan warming up dan saling membelai dan berciuman, tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan-lahan dan entah sudah berapa lama Ita anak Lia berdiri di situ sambil memperhatikan mamanya sedang aku kerjai, sampai pada suatu waktu kami melihatnya dan refleks menghentikan segala aktifitas.

“Kok berhenti Mah..” aku diam dan sedikit pucat, lebih-lebih Lia, sebaliknya Ita dengan tenangnya menghampiri kami.


“Mah.. tenang aja, Ita ngerti kok, Ita juga udah pernah kayak gini, sama Mas Andre.”


Belakangan aku tahu Andre adalah pacar Ita. Dengan mengorbankan aku, Lia bilang,


“Ini Mas Ogi mau pulang, tapi maksa Mamah untuk dicium, Mamah malu, jadi ngasihnya di sini aja (atas loteng),”


Lebih terkejut lagi, aku dan Lia,


“Udahlah Mah.. aku udah tahu kok kesepian, Mamah terusin aja, dan pasti aman, tapi asal aku boleh liat.”

Kami berpandangan, tapi jengah untuk meneruskan. Dengan santainya, Ita membukapakaian SMU-nya, dan terus memandangi kami. Akhirnya Lia memeluk Ita dan meminta maaf, tapi dengan halus Ita mendorong Lia dan mengalungkan tangannya ke leherku dan menciumiku. Hilang semua kekakuan, dan akhirnya Lia membantu melepaskan pakaian yang kupakai dan akhirnya melepas pakaiannya pula. Jadilah pertandingan 2 lawan 1. Gila anak dan ibu sekaligus. Ita ternyata memiliki gaya konvensional, meski dia sudah beberapa kali melakukan hubungan seks, sehingga mau tidak mau Lia harus mengalah ketika Ita kukerjai dan kulumat. Yang paling banyak kami lakukan adalah dengan gaya telentang atau duduk dan bergantian. Lia dan Ita di atas sambil ber-rodeo di atas rudal yang berdiri kokoh. Ketika Lia menggunakan doggy style, Ita berada di atas punggungnya (tidak sampai menduduki) dan vaginanya mengarah ke mulutku dan kukerjai habis-habisan sampai berkali-kali. Ia menjerit karena klimaks prematur akibat sensitifitas rangsangannya yang begitu peka.

Lia telah bercucuran peluh, aku dan Ita juga serupa, dan permainan itu hampir 2 jam kami lakukan karena Ita cepat keluar dan cepat sekali “on”, sementara Lia terkontrol karenasedikit agak malu bersaing dengan Ita, serasa spermaku terkuras habis. Jika dengan Lia, kumuntahkan di dalam vaginanya, sedangkan dengan Ita kukeluarkan di mulutnya. Ita dengan terampil menyedotnya sampai tuntas. Sampai akhirnya kami terkulai lemas di kamar atas, ketika sedang maghrib, aku diam-diam meninggalkan kamar itu dengan lunglai. Sejak itu tidak pernah lagi Lia menghubungiku, dan aku pun segan untuk menghubunginya, namun permainan seperti ini baru sekali dalam pengalaman seks-ku. Ma’afkan dan terimakasih untuk Lia dan Ita atas pengalaman itu, karena salah sambung.

Category:
��